Siap Maju di Pilgub 2024, Romi : Kalau Sudah Bismillah Gaspol Demokrat Ajak Nasdem dan PKS Segera Bentuk Sekretariat Perubahan untuk Usung Anies Baswedan sebagai Bacapres 2024 Dikunjungi Kapolres Tanjab Barat, Warga Penerima Bedah Rumah Tersenyum Karyawan Gelapkan Alat Jaringan Tower Perusahaan, Diringkus Tim Anti Bandit Polres Merangin Koperasi Primer Kartika Garuda Putih Gelar Rapat Anggota Tahunan

Home / Berita

Sabtu, 3 Desember 2022 - 18:18 WIB

Batu Bara, Cinta Segi Enam yang Tak Harmonis

Angkutan Batu Bara saat melintas di salah satu Jalan. FOTO : Ist

Angkutan Batu Bara saat melintas di salah satu Jalan. FOTO : Ist

JAMBI – Permasalahan batu bara merupakan permasalahan yang paling disorot di provinsi Jambi hari ini. Seolah-olah tak kunjung menemukan titik temu, dan terkesan terpaksa harus diberi dosis penenang sementara sebagai solusi jangka sangat pendek.

Jelas memang imbas batu bara ini, diantaranya ; bagi masyarakat umum yang terdampak debu dari angkutan yang jumlahnya tidak sedikit. Juga kemacetan yang di alami oleh segenap masyarakat di sepanjang lintasan transportasi batu bara ini.

Belum lagi LAKALANTAS yang merenggut nyawa yang kebanyakan di antaranya adalah mahasiswa dua kampus terbesar di provinsi Jambi yaitu UNJA (Universitas Jambi) dan UIN STS Jambi.

Pihak pemerintah daerah terkesan kaget dengan permasalahan ini, nyata dengan solusi yang diberikan terkesan bongkar pasang seperti menekan balon di dalam air.

Lantas apakah tidak ada perhitungan volume kendaraan maksimum dibagi luas jalan lintasan batu bara dikurangi jumlah kendaraan masyarakat sebelum dikeluarkan nya izin pertambangan?

Tidak heran memang, jika pertambangan batu bara di provinsi Jambi terkesan ugal-ugalan dan Tampa perhitungan.

Hal ini dibuktikan dengan kemacetan yang selalu terjadi di sepanjang lintasan tersebut.

Maka dapat dikatakan permasalah batu bara di provinsi Jambi hari ini adalah cinta segi enam yang tidak harmonis, antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, masyarakat terdampak, masyarakat pekerja, pengusaha tambang, dan sipil society.

Segi pertama pemerintah pusat.

Setelah diduga banyaknya Mala praktek penyelewengan perizinan di daerah, pemerintah pusat menilai penyelewengan tersebut akan menghambat investasi guna mendongkrak pertumbuhan ekonomi.

Sehingga, pemerintah pusat mengambil alih pengeluaran izin tersebut tidak lagi di pemerintah daerah melainkan terpusat di kementrian pemerintahan pusat. Namun, hal ini kembali menimbulkan permasalahan baru, yaitu terkesan ugal-ugalan dan menerabas apapun asalkan investasi jalan terus. Mengapa demikian, ya itu tadi permasalahan angkutan yang tidak diperhitungkan dengan kemampuan penampungan jalan sehingga muncul kemacetan yang menjadi permasalahan utama. Tentu, pemerintah pusat sangat terbatas untuk mengetahui permasalahan ini dibanding pemerintah daerah, namun, pemerintah daerah menjadi sasaran empuk kemarahan pihak yang di rugikan.

BACA JUGA  Ini 40 Parpol Calon Peserta Pemilu 2024

Segi kedua, yaitu pemerintah daerah.

Dengan keterbatasan wewenang, PEMDA Hanya mampu menghadirkan solusi yang bersifat hanya dosis penenang sementara.

Contoh saja ketika mahasiswa melakukan demonstrasi terkait kematian beberapa mahasiswa yg di sebabkan oleh angkutan batu bara. Pemda kemudian mengeluarkan peraturan maksimum tonase dan jam operasi angkutan.

Sejenak permasalah itu redam, namun tidak berselang lama, kembali sopir batu bara berduyun-duyun datang ke kantor Gubernur Jambi untuk menyuarakan aspirasinya. Lalu apa yg di lakukan pemerintah?

Melonggarkan aturan sehingga tidak terlalu ketat. Di samping itu, karena begitu seksi isu tentang batu bara ini, kepala daerah yang tentu sebagai makhluk politik kerap kali ini menganggap ini sebagai market masa untuk memenangkan pilkada.

Sehingga datanglah ia dengan sosok yang menjanjikan solusi terhadap permasalahan ini, Syahdan ia mendapat simpati dari sebagian besar masyarakat. Namun, dengan kondisi wewenang dan minimnya anggaran APBD Jambi telah niscaya semua itu hanya dongeng sebelum tidur saja.

Segi yang ketiga, masyarakat terdampak.

Masyarakat yang terdampak angkutan batu bara ini mengalami dua permasalahan utama, yaitu : kemacetan lalu lintas dan polusi debu. Masyarakat yang mengalami ini tentu mereka yang berada di sekitar lintasan transportasi batu bara.

Masyarakat ini cendrung tidak terorganisir, sehingga kemarahan mereka kerap kali di temukan secara spontan saat mereka habis kesabaran. Sering kita dapati sopir angkutan menjadi sasaran mereka, padahal sopir dan mereka sama-sama masyarakat, sekedar berbeda posisi dan kebutuhan.

Kemarahan masyarakat yang demikian itu dapat di maklumi karena mereka tidak mempunyai kemampuan memobilisasi masa dan melaksanakan demontrasi dalam suatu waktu seperti ormas ataupun mahasiswa.

Segi keempat, masyarakat pekerja

BACA JUGA  Peringati Hari Juang TNI AD, Korem 042/Gapu Gelar Syukuran dan Doa Bersama

Harus di sadari pula, semua pekerja terutama sopir batu bara itu merupakan masyarakat yang di benturkan dengan kebutuhan hidup dan mata pencaharian. Masyarakat pekerja ini, secara hati nurani mereka menyadari permasalahan yang muncul, namun terbentur dengan kenyataan posisi mereka sebagai pekerja adalah posisi untuk memenuhi kebutuhan hidup. Mereka terkadang diperhadapkan dengan sesama masyarakat yang terdampak.

Segi kelima, pengusaha tambang

Untuk segi yang ini mudah saja di Anasir dasar dalam tindakan mereka yang tidak lain kecuali “keuntungan”. Lantas apakah mereka mutlak melakukan kesalahan?

Tidak dapat juga dikatakan begitu, karena mereka tidak menambang secara ilegal, melainkan sudah melalui izin yang mereka minta kepada negara.

Segi keenam, sipil society

Sipil society ini terdiri dari MAHASISWA, ORMAS, OKP, LSM, dan Pers. Keseluruhan dalam segi ini pada dasarnya siap berhadapan-hadapan dengan pemerintah jika ia berbanding lurus dengan permasalahan ditengah masyarakat.

Meski, terkadang terselip maksud terselubung di dalamnya yang bisa saja berupa eksistensi, gertakan, atau bahkan terkadang tunggangan dari sekelompok oknum yang punya kepentingan.

Jika di kerucutkan, masalah utama baru bara di provinsi Jambi ini sebenarnya hanya satu : yaitu kemacetan, sehingga solusinya juga cuma satu : yaitu bangun jalan. Jika itu dirasa berat dihadirkan dalam waktu dekat maka satu-satunya solusi adalah menghitung ulang jumlah produksi dan jumlah angkutan dipersamakan dengan kemampuan jalan sepanjang lintasan agar tidak terjadi kemacetan.

Tidak hanya dihitung, jumlah angkutan yang tentunya berlebih pada hari ini harus di kurangi jumlahnya, bukan hanya muatannya.

Jika itu dilakukan maka disitu pulalah pembuktian keberpihakan pemerintah kepada masyarakat. Namun jika tidak, maka tidak dapat ditepis lagi bukti keberpihakan pemerintah kepada korporasi yang akan memunculkan kemarahan rakyat secara terus menerus.

Penulis :

Muhammad Putra Ramadhan (Wakil Gubernur Dema Fakultas Syariah & Hukum UIN STS Jambi)

Share :

Baca Juga

Berita

TNI AD Dirikan Kampung Pancasila dan Wujudkan Program Pro Rakyat

Berita

Siswa SDN 06 Lubuk Kambing Keluhkan Lantai Kelas Belum Dikeramik dan Plafon Ambruk

Berita

Korem 042/Gapu Peringati Hari Sumpah Pemuda

Berita

Rajin dan Jujur Dalam Bekerja, Karyawan Pabrik Pengolahan Pinang di Tanjabbar dapat Reward Umrah

Berita

1 Lagi, Kawanan Geng Motor Lorong Jahit Diciduk Polisi

Berita

Bupati Anwar Sadat Pimpin Upacara HSN 2022 “Berdaya Menjaga Martabat Kemanusiaan

Berita

Peringatan HAN 2022 Sukses dan Meriah, Pj Bupati Muaro Jambi Apresiasi Kadis Dikbud

Berita

Mahasiswa Disabilitas UNJA di Aniaya Dosen